Selasa, 24 November 2009

SALAFI, WAHABI DAN KHAWARIJ

Membaca Salafi, Wahabi dan Khawarij

Dalam melihat faktor kemunculan pemikiran untuk kembali kepada pendapat Salaf menurut Imam Ahmad bin Hambal dapat diperhatikan dari kekacauan zaman saat itu. Sejarah membuktikan, saat itu, dari satu sisi, kemunculan pemikiran liberalisme yang diboyong oleh pengikut Muktazilah yang meyakini keturutsertaan dan kebebasan akal secara ekstrim dan radikal dalam proses memahami agama. Sedang disisi lain, munculnya pemikiran filsafat yang banyak diadopsi dari budaya luar agama, menyebabkan munculnya rasa putus asa dari beberapa kelompok ulama Islam, termasuk Ahmad bin Hambal. Untuk lari dari pemikiran-pemikiran semacam itu, lantas Ahmad bin Hambal memutuskan untuk kembali kepada metode para Salaf dalam memahami agama, yaitu dengan cara tekstual.

--------------------------------------------------------------
AKHIR-AKHIR INI, di Tanah Air kita muncul banyak sekali kelompok-kelompok pengajian dan studi keislaman yang mengidentitaskan diri mereka sebagai pengikut dan penyebar ajaran para Salaf Saleh. Mereka sering mengatasnamakan diri mereka sebagai kelompok Salafi. Dengan didukung dana yang teramat besar dari negara donor, yang tidak lain adalah negara asal kelompok ini muncul, mereka menyebarkan akidah-akidah yang bertentangan dengan ajaran murni keislaman baik yang berlandaskan al-Quran, hadis, sirah dan konsensus para salaf maupun khalaf.

Dengan menggunakan ayat-ayat dan hadis yang diperuntukkan bagi orang-orang kafir, zindiq dan munafiq, mereka ubah tujuan teks-teks tersebut untuk menghantam para kaum muslimin yang tidak sepaham dengan akidah mereka. Mereka beranggapan, bahwa hanya akidah mereka saja yang mengajarkan ajaran murni monoteisme dalam tubuh Islam, sementara ajaran selainnya, masih bercampur syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul yang harus dijauhi, karena sesat dan menyesatkan. Untuk itu, dalam makalah ringkas ini akan disinggung selintas tentang apa dan siapa mereka. Sehingga dengan begitu akan tersingkap kedok mereka selama ini, yang mengaku sebagai bagian dari Ahlusunnah dan penghidup ajaran Salaf Saleh.

DEFINISI SALAFI

Jika dilihat dari sisi bahasa, Salaf berarti yang telah lalu.[2] Sedang dari sisi istilah, salaf diterapkan untuk para sahabat Nabi, tabi'in dan tabi' tabi'in yang hidup di abad-abad permulaan kemunculan Islam.[3] Jadi, salafi adalah kelompok yang ‘mengaku’ sebagai pengikut pemuka agama yang hidup dimasa lalu dari kalangan para sahabat, tabi'in dan tabi' tabi'in. Baik yang berkaitan dengan akidah, syariat dan prilaku keagamaan.[4] Bahkan sebagian menambahkan bahwa Salaf mencakup para Imam Mazhab, sehingga salafi adalah tergolong pengikut mereka dari sisi semua keyakinan keagamaannya.[5] Muhammad Abu Zuhrah menyatakan bahwa Salafi adalah kelompok yang muncul pada abad ke-empat hijriyah, yang mengikuti Imam Ahmad bin Hambal. Kemudian pada abad ketujuh hijriyah dihidupkan kembali oleh Ibnu Taimiyah.[6]

Pada hakekatnya, kelompok yang mengaku sebagai salafi yang dapat kita temui di Tanah Air sekarang ini, mereka adalah golongan Wahabi yang telah diekspor oleh pamuka-pemukanya dari dataran Saudi Arabia. Dikarenakan istilah Wahabi begitu berkesan negatif, maka mereka mengatasnamakan diri mereka dengan istilah Salafi, terkhusus sewaktu ajaran tersebut diekspor keluar Saudi. Kesan negatif dari sebutan Wahabi buat kelompok itu bisa ditinjau dari beberapa hal, salah satunya adalah dikarenakan sejarah kemunculannya banyak dipenuhi dengan pertumpahan darah kaum muslimin, terkhusus pasca kemenangan keluarga Saud -yang membonceng seorang rohaniawan menyimpang bernama Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi- atas semua kabilah di jazirah Arab atas dukungan kolonialisme Inggris. Akhirnya keluarga Saud mampu berkuasa dan menamakan negaranya dengan nama keluarga tersebut. Inggris pun akhirnya dapat menghilangkan dahaga negaranya dengan menyedot sebagian kekayaan negara itu, terkhusus minyak bumi. Sedang pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab, resmi menjadi akidah negara tadi yang tidak bisa diganggu gugat. Selain menindak tegas penentang akidah tersebut, Muhammad bin Abdul Wahab juga terus melancarkan aksi ekspansinya ke segenap wilayah-wilayah lain diluar wilayah Saudi.[7]

Sayyid Hasan bin Ali as-Saqqaf, salah satu ulama Ahlusunnah yang sangat getol mempertahankan serangan dan ekspansi kelompok wahabisme ke negara-negara muslim, dalam salah satu karyanya yang berjudul "as-Salafiyah al-Wahabiyah" menyatakan: "Tidak ada perbedaan antara salafiyah dan wahabiyah. Kedua istilah itu ibarat dua sisi pada sekeping mata uang. Mereka (kaum salafi dan wahabi) satu dari sisi keyakinan dan pemikiran. Sewaktu di Jazirah Arab mereka lebih dikenal dengan al-Wahhabiyah al-Hambaliyah. Namun, sewaktu diekspor keluar (Saudi), mereka mengatasnamakan dirinya sebagai Salafy". Sayyid as-Saqqaf menambahkan: "Maka kelompok salafi adalah kelompok yang mengikuti Ibnu Taimiyah dan mengikuti ulama mazhab Hambali. Mereka semua telah menjadikan Ibnu Taimiyah sebagai imam, tempat rujukan (marja'), dan ketua. Ia (Ibnu Taimiyah) tergolong ulama mazhab Hambali. Sewaktu mazhab ini berada di luar Jazirah Arab, maka tidak disebut dengan Wahabi, karena sebutan itu terkesan celaan". Dalam menyinggung masalah para pemuka kelompok itu, kembali Sayyid as-Saqqaf mengatakan: "Pada hakekatnya, Wahabiyah terlahir dari Salafiyah. Muhammad bin Abdul Wahab adalah seorang yang menyeru untuk mengikuti ajaran Ibnu Taimiyah dan para pendahulunya dari mazhab Hambali, yang mereka kemudian mengaku sebagai kelompok Salafiyah". Dalam menjelaskan secara global tentang ajaran dan keyakinan mereka, as-Saqqaf mengatakan: "Al-Wahabiyah atau as-Salafiyah adalah pengikut mazhab Hambali, walaupun dari beberapa hal pendapat mereka tidak sesuai lagi (dan bahkan bertentangan) dengan pendapat mazhab Hambali sendiri. Mereka sesuai (dengan mazhab Hambali) dari sisi keyakinan tentang at-Tasybih (Menyamakan Allah dengan makhluk-Nya), at-Tajsim (Allah berbentuk mirip manusia), dan an-Nashb yaitu membenci keluarga Rasul saw (Ahlul-Bait) dan tiada menghormati mereka".[8] Jadi, menurut as-Saqqaf, kelompok yang mengaku Salafi adalah kelompok Wahabi yang memiliki sifat Nashibi (pembenci keluarga Nabi saw), mengikuti pelopornya, Ibnu Taimiyah.

PELOPOR PEMIKIRAN “KEMBALI KE METODE AJARAN SALAF”

Ahmad bin Hambal adalah sosok pemuka hadis yang memiliki karya terkenal, yaitu kitab “Musnad”. Selain sebagai pendiri mazhab Hambali, ia juga sebagai pribadi yang menggalakkan ajaran kembali kepada pemikiran Salaf Saleh. Secara umum, metode yang dipakai oleh Ahmad bin Hambal dalam pemikiran akidah dan hukum fikih, adalah menggunakan metode tekstual. Oleh karenanya, ia sangat keras sekali dalam menentang keikutsertaan dan penggunaan akal dalam memahami ajaran agama. Ia beranggapan, kemunculan pemikiran logika, filsafat, ilmu kalam (teologi) dan ajaran-ajaran lain –yang dianggap ajaran diluar Islam yang kemudian diadobsi oleh sebagian muslim- akan membahayakan nasib teks-teks agama.

Dari situ akhirnya ia menyerukan untuk berpegang teguh terhadap teks, dan mengingkari secara total penggunaan akal dalam memahami agama, termasuk proses takwil rasional terhadap teks. Ia beranggapan, bahwa metode itulah yang dipakai Salaf Saleh dalam memahami agama, dan metode tersebut tidak bisa diganggu gugat kebenaran dan legalitasnya. Syahrastani yang bermazhab ‘Asyariyah dalam kitab “al-Milal wa an-Nihal” sewaktu menukil ungkapan Ahmad bin Hambal yang menyatakan: “Kita telah meriwayatkan (hadis) sebagaimana adanya, dan hal (sebagaimana adanya) itu pula yang kita yakini”.[9] Konsekwensi dari ungkapan Ahmad bin Hambal di atas itulah, akhirnya ia beserta banyak pengikutnya –termasuk Ibnu Taimiyah- terjerumus kedalam jurang kejumudan dan kaku dalam memahami teks agama. Salah satu dampak konkrit dari metode di atas tadi adalah, keyakinan akan tajsim (anthropomorphisme) dan tasybih dalam konsep ketuhanan, lebih lagi kelompok Salafi kontemporer, pendukung ajaran Ibnu Taimiyah al-Harrani yang kemudian tampuk kepemimpinannya dilanjutkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi.

Suatu saat, datang seseorang kepada Ahmad bin Hambal. Lantas, ia bertanya tentang beberapa hadis. Hingga akhirnya, pertanyaan sampai pada hadis-hadis semisal: “Tuhan pada setiap malam turun ke langit Dunia”, “Tuhan bisa dilihat”, “Tuhan meletakkan kaki-Nya kedalam Neraka” dan hadis-hadis semisalnya. Lantas ia (Ahmad bin Hambal) menjawab: “Kita meyakini semua hadis-hadis tersebut. Kita membenarkan semua hadis tadi, tanpa perlu terhadap proses pentakwilan”.[10]

Jelas metode semacam ini tidak sesuai dengan ajaran al-Quran dan as-Sunnah itu sendiri. Jika diperhatikan lebih dalam lagi, betapa al-Quran dalam ayat-ayatnya sangat menekankan penggunaan akal dan pikiran dalam bertindak.[11] Begitu juga hadis-hadis Nabi saw. Selain itu, pengingkaran secara mutlak campur tangan akal dan pikiran manusia dalam memahami ajaran agama akan mengakibatkan kesesatan dan bertentangan dengan ajaran al-Quran dan as-Sunnah itu sendiri. Dapat kita contohkan secara singkat penyimpangan yang terjadi akibat penerapan konsep tadi. Jika terdapat ayat semisal “Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas Arsy”,[12] atau seperti hadis yang menyatakan “Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada setiap malam”[13], lantas, disisi lain kita tidak boleh menggunakan akal dalam memahaminya, bahkan cukup menerima teks sebagaimana adanya, maka kita akan terbentur dengan ayat lain dalam al-Quran seperti ayat “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia”.[14] Apakah ayat dari surat Thoha tadi berartikan bahwa Allah bertengger di atas singgasana Arsy sebagaimana Ibnu Taimiyah duduk di atas mimbar, atau turun ke langit dunia sebagaimana Ibnu Taimiyah turun dari atas mimbarnya, yang itu semua berarti bertentangan dengan ayat dari surat as-Syuura di atas. Jadi akan terjadi kontradiksi dalam memahami hakekat ajaran agama Islam. Mungkinkah Islam sebagai agama paripurna akan terdapat kontradiksi? Semua kaum muslimin pasti akan menjawabnya dengan negatif, apalagi berkaitan dengan al-Quran sebagai sumber utama ajaran Islam.

Melihat kelemahan metode dasar yang ditawarkan oleh Ahmad bin Hambal semacam ini, meniscayakan adanya pengeroposan ajaran-ajaran yang bertumpu pada metode tadi. Dalam masalah ini, kembali as-Sahrastani mengatakan: “Berbagai individu dari Salaf telah menetapkan sifat azali Tuhan, semisal; sifat Ilmu, Kemampuan (Qudrat)…dan mereka tidak membedakan antara sifat Dzati dan Fi’li. Sebagaimana mereka juga telah menetapkan sifat khabariyah buat Tuhan, seperti; dua tangan dan wajah Tuhan. Mereka tidak bersedia mentakwilnya, dan mengatakan: itu semua adalah sifat-sifat yang terdapat dalam teks-teks agama. Semua itu kita sebut sebagai sifat khabariyah”. Dalam kelanjutan dari penjelasan mengenai kelompok Salafi tadi, kembali as-Sahrastani mengatakan: “Para kelompok Salafi kontemporer meyakini lebih dari para kelompok Salaf itu sendiri. Mereka menyatakan, sifat-sifat khabari bukan hanya tidak boleh ditakwil, namun harus dimaknai secara zahir. Oleh karenanya, dari sisi ini, mereka telah terjerumus kedalam murni keyakinan tasybih. Tentu, permasalahan semacam ini bertentangan dengan apa yang diyakini oleh para salaf itu sendiri”.[15] Jadi sesuai dengan ungkapan Syahrastani, bahwa mayoritas para pengikut kelompok Salafi kontemporer telah menyimpang dari keyakinan para Salaf itu sendiri. Itu jika kita telaah secara global tentang konsep memahami teks. Akibatnya, mereka akan terjerumus kepada kesalahan fatal dalam mengenal Tuhan, juga dalam permasalahn-permasalahan lainnya. Padahal, masih banyak lagi permasalahan-permasalahan lain yang jelas-jelas para Salaf meyakininya, sedang pengaku pengikut salaf kontemporer (salafi) justru mengharamkan dengan alasan syirik, bidah, ataupun khurafat. Perlu ada tulisan tersendiri tentang hal-hal tadi, dengan disertai kritisi pendapat dan argumentasi para pendukung kelompok Wahabisme.[16] Itulah yang menjadi alasan bahwa para pengikut Salafi (kontemporer) itu sudah banyak menyimpang dari ajaran para Salaf itu sendiri, termasuk sebagian ajaran imam Ahmad bin Hambal sendiri.[17]

FAKTOR MUNCULNYA KELOMPOK SALAFI

Dalam melihat faktor kemunculan pemikiran untuk kembali kepada pendapat Salaf menurut Imam Ahmad bin Hambal dapat diperhatikan dari kekacauan zaman saat itu. Sejarah membuktikan, saat itu, dari satu sisi, kemunculan pemikiran liberalisme yang diboyong oleh pengikut Muktazilah yang meyakini keturutsertaan dan kebebasan akal secara ekstrim dan radikal dalam proses memahami agama. Sedang disisi lain, munculnya pemikiran filsafat yang banyak diadopsi dari budaya luar agama, menyebabkan munculnya rasa putus asa dari beberapa kelompok ulama Islam, termasuk Ahmad bin Hambal. Untuk lari dari pemikiran-pemikiran semacam itu, lantas Ahmad bin Hambal memutuskan untuk kembali kepada metode para Salaf dalam memahami agama, yaitu dengan cara tekstual.

Syeikh Abdul Aziz ‘Izzuddin as-Sirwani dalam menjelaskan factor kemunculan pemikiran kembali kepada metode Salaf, mengatakan: “Dikatakan bahwa penyebab utama untuk memegang erat metode itu –yang sangat nampak pada pribadi Ahmad bin Hambal- adalah dikarenakan pada zamannya banyak sekali dijumpai fitnah-fitnah, pertikaian dan perdebatan teologis. Dari sisi lain, berbagai pemikiran aneh, keyakinan-keyakinan yang bermacam-macam dan beraneka ragam budaya mulai bermunculan. Bagaimana mungkin semua itu bisa muncul di khasanah kelimuan Islam. Oleh karenanya, untuk menyelamatkan keyakinan-keyakinan Islam, maka ia menggunakan metode kembali kepemikiran Salaf”.[18] Hal semacam itu pula yang dinyatakan oleh as-Syahrastani dalam kitab al-Milal wa an-Nihal.

Fenomena semacam ini juga bisa kita perhatikan dalam sejarah hidup Abu Hasan al-Asy’ari pendiri mazhab al-Asyariyah. Setelah ia mengumumkan diri keluar dari ajaran Muktazilah yang selama ini ia dapati dari ayah angkatnya, Abu Ali al-Juba’i seorang tokoh Muktazilah dizamannya. Al-Asy’ari dalam karyanya yang berjudul “al-Ibanah” dengan sangat jelas menggunakan metode mirip yang digunakan oleh Ahmad bin Hambal. Namun karena ia melihat bahwa metode semacam itu terlampau lemah, maka ia agak sedikit berganti haluan dengan mengakui otoritas akal dalam memahami ajaran agama, walau dengan batasan yang sangat sempit. Oleh karenanya, dalam karya lain yang diberi judul “al-Luma’ ” nampak sekali betapa ia masih mengakui campur tangan dan keturutsertaan akal dalam memahami ajaran agama, berbeda dengan metode Ahmad bin Hambal yang menolak total keikutsertaan akal dalam masalah itu. Dikarenakan al-Asy’ari hidup di pusat kebudayaan Islam kala itu, yaitu kota Baghdad, maka sebutan Ahlusunnah pun akhirnya didentikkan dengan mazhabnya. Sedang mazhab Thohawiyah dan Maturidiyah yang kemunculannya hampir bersamaan dengan mazhab Asyariyah dan memiliki kemiripan dengannya, menjadi kalah pamor dimata mayoritas kaum muslimin, apalagi ajaran Ahmad bin Hambal sudah tidak lagi dilirik oleh kebanyakan kaum muslimin. Lebih-lebih pada masa kejayaan Ahlusunnah, kemunculan kelompok Salafi kontemporer yang dipelopori oleh Ibnu Taimiyah yang sebagai sempalan dari mazhab imam Ahmad bin Hambal, pun tidak luput dari ketidaksimpatian kelompok mayoritas Ahlusunnah. Ditambah lagi dengan penyimpangan terhadap akidah Salaf yang dilakukan Salafi kontemporer (pengikut Ibnu Taimiyah) -yang dikomandoi oleh Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi- serta tindakan arogansi yang dilancarkan para pengikut Salafi tersebut terhadap kalompok lain yang dianggap tidak sependapat dengan pemikiran mereka.

KECURANGAN KELOMPOK SALAFI

Setiap golongan bukan hanya berusaha untuk selalu mempertahankan kelangsungan golongannya, namun mereka juga berusaha untuk menyebarkan ajarannya. Itu merupakan suatu hal yang wajar. Akan tetapi, tingkat kewajarannya bukan hanya bisa dinilai dari sisi itu saja, namun juga harus dilihat dari cara dan sarana yang dipakai untuk mempertahankan kelangsungan dan penyebaran ajaran golongan itu. Dari sisi ini, kelompok Salafi banyak melakukan beberapa kecurangan yang belum banyak diketahui oleh kelompok muslim lainnya. Selain kelompok Ahlusunnah biasa, kelompok Ahli Tasawwuf dari kalangan Ahlusunnah dan kelompok Syiah (di luar Ahlusunnah) merupakan kelompok-kelompok di luar Wahabi (Salafi) yang sangat gencar diserang oleh kelompok Salafi. Kelompok Salafi tidak segan-segan melakukan hal-hal yang tidak ‘gentle’ dalam menghadapi kelompok-kelompok selain Salafi, terkhusus Syiah. Menuduh kelompok lain dari saudara-saudaranya sesama muslim sebagai ahli bid’ah, ahli khurafat, musyrik adalah kebiasaan buruk kaum Salafi, walaupun kelompok tadi tergolong Ahlusunnah. Disisi lain, mereka sendiri terus berusaha untuk disebut dan masuk kategori kelompok Ahlusunnah. Berangkat dari sini, kaum Salafi selalu mempropagandakan bahwa Syiah adalah satu kelompok yang keluar dari Islam, dan sangat berbeda dengan pengikut Ahlusunnah. Mereka benci dengan usaha-usaha pendekatan dan persatuan Sunnah-Syiah, apalagi melalui forum dialog ilmiah. Mereka berpikir bahwa dengan mengkafirkan kelompok Syiah, maka mereka akan dengan mudah duduk bersama dengan kelompok Ahlusunnah. Padahal realitanya tidaklah semacam itu. Karena mereka selalu menuduh kelompok Ahlusunnah sebagai pelaku Bid’ah, Khurafat, Takhayul dan Syirik. Mereka berpikir, sewaktu seorang pengikut Ahlusunnah melakukan ziarah kubur, tahlil, membaca shalawat dan pujian terhadap Nabi, istighotsah, bertawassul dan mengambil berkah (tabarruk) berarti ia telah masuk kategori pelaku syirik atau ahli bid’ah yang telah jelas konsekwensi hukumnya dalam ajaran Islam.

Singkat kata, kebencian itu bukan hanya dilancarkan kepada Ahlusunnah, namun terlebih pada kelompok Syiah. Kebencian kaum Salafi terhadap Syiah, bahkan dilakukan dengan cara-cara tidak ilmiah bahkan cenderung arogan dan premanisme, sebagaimana yang dilakukannya di beberapa tempat. Mereka tahu bahwa kelompok Syiah sangat produktif dalam penerbitan buku-buku, terkhusus buku-buku agama. Karya-karya ulama Syiah mampu mengikuti perkembangan zaman dan dapat memberi masukan dalam menyelesaikan problem intelektual yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat. Ulama Syiah mampu mengikuti wacana yang sedang berkembang, plus cara penyampaiannya pun dilakukan dengan cara ilmiah. Hal itulah yang menyebabkan kecemburuan kelompok Salafi terhadap Syiah kian menjadi. Akhirnya, sebagai contoh perbuatan licik yang mereka lakukan, sewaktu diadakan pameran Internasional Book-Fair di Mesir, dimana kelompok Syiah pun turut memeriahkan dengan membuka beberapa stand di pameran tersebut, melihat hal itu, kelompok Salafi (Wahabi) memborong semua kitab-kitab Syiah di stand-stand yang ada, yang kemudian membakar semua kitab yang dibelinya.[19]

Jika mereka berani bersaing dengan kelompok Syiah dari sisi keilmiahan, kenapa mereka melakukan hal itu? Perlakuan mereka semacam itu sebagai salah satu bukti kuat, bahwa mereka tidak terlalu memiliki basis ilmiah yang cukup mumpuni sehingga untuk menghadapi Syiah, mereka tidak memiliki jalan lain kecuali harus menggunakan cara-cara emosional yang terkadang cenderung arogan itu. Cara itu juga yang mereka lakukan terhadap para pengikut tasawuf dan tarekat yang banyak ditemui dalam tubuh Ahlusunnah sendiri, khususnya di Indonesia.

Segala bentuk makar dan kebohongan untuk mengahadapi rival akidahnya merupakan hal mubah dimata pengikut Salafi (Wahabi), karena kelompok Salafi masih terus beranggapan bahwa selain kelompoknya masih dapat dikategorikan pelaku syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul. Perlakuan mereka terhadap kaum muslimin pada musim haji merupakan bukti yang tidak dapat diingkari.

Yang lebih parah dari itu, para pendukung kelompok Salafi –yang didukung dana begitu besar- berani melakukan perubahan pada kitab-kitab standart Ahlusunnah, demi untuk menguatkan ajaran mereka, yang dengan jelas tidak memiliki akar sejarah dan argumentasi (tekstual dan rasional) yang kuat. Dengan melobi para pemilik percetakan buku-buku klasik agama yang menjadi standart ajaran –termasuk kitab-kitab hadis dan tafsir- mereka berani mengeluarkan dana yang sangat besar untuk merubah beberapa teks (hadis ataupun ungkapan para ulama) yang dianggap merugikan kelompok mereka. Kita ambil contoh apa yang diungkapkan oleh Syeikh Muhammad Nuri ad-Dirtsawi, beliau mengatakan: “Merubah dan menghapus hadis-hadis merupakan kebiasaan buruk kelompok Wahabi. Sebagai contoh, Nukman al-Alusi telah merubah tafsir yang ditulis oleh ayahnya, Syeikh Mahmud al-Alusi yang berjudul Ruh al-Ma’ani. Semua pembahasan yang membahayakan kelompok Wahabi telah dihapus. Jika tidak ada perubahan, niscaya tafsir beliau menjadi contoh buat kitab-kitab tafsir lainnya. Contoh lain, dalam kitab al-Mughni karya Ibnu Qodamah al-Hambali, pembahasan tentang istighotsah telah dihapus, karena hal itu mereka anggap sebagai bagian dari perbuatan Syirik. Setelah melakukan perubahan tersebut, baru mereka mencetaknya kembali. Kitab Syarah Shohih Muslim pun (telah dirubah) dengan membuang hadis-hadis yang berkaitan dengan sifat-sifat (Allah), kemudian baru mereka mencetaknya kembali”.[20]

Namun sayang, banyak saudara-saudara dari Ahlusunnah lalai dengan apa yang mereka lakukan selama ini. Perubahan-perubahan semacam itu, terkhusus mereka lakukan pada hadis-hadis yang berkaitan dengan keutamaan keluarga (Ahlul-Bait) Nabi. Padahal, salah satu sisi kesamaan antara Sunni-Syiah adalah pemberian penghormatan khusus terhadap keluarga Nabi. Dari sinilah akhirnya pribadi seperti sayyid Hasan bin Ali as-Saqqaf menyatakan bahwa mereka tergolong kelompok Nashibi (pembenci keluarga Rasul).

Dalam kitab tafsir Jami’ al-Bayan, sewaktu menafsirkan ayat 214 dari surat as-Syu’ara: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabat-mu yang terdekat”, disitu, Rasulullah mengeluarkan pernyataan berupa satu hadis yang berkaitan dengan permulaan dakwah. Dalam hadis yang tercantum dalam kitab tafsir tersebut disebutkan, Rasul bersabda: “Siapakah diantara kalian yang mau menjadi wazir dan membantuku dalam perkara ini -risalah- maka akan menjadi saudaraku…(kadza…wa…kadza)...”. Padahal, jika kita membuka apa yang tercantum dalam tarikh at-Thabari kata “kadza wa kadza” (yang dalam penulisan buku berbahasa Indonesia, biasa digunakan titik-titik) sebagai ganti dari sabda Rasul yang berbunyi; “Washi (pengganti) dan Khalifah-ku”. Begitu pula hadis-hadis semisal, “Aku adalah kota ilmu, sedang Ali adalah pintunya” yang dulu tercantum dalam kitab Jaami’ al-Ushul karya Ibnu Atsir, kitab Tarikh al-Khulafa’ karya as-Suyuthi dan as-Showa’iq al-Muhriqoh karya Ibnu Hajar yang beliau nukil dari Shohih at-Turmudzi, kini telah mereka hapus. Melakukan peringkasan kitab-kitab standard, juga sebagai salah satu trik mereka untuk tujuan yang sama. Dan masih banyak usaha-usaha licik lain yang mereka lancarkan, demi mempertahankan ajaran mereka, terkhusus ajaran kebencian terhadap keluarga Nabi. Sementara sudah menjadi kesepakatan kaum muslimin, bahwa mencintai keluarga Nabi adalah suatu kewajiban, sebagaimana Syair yang pernah dibawakan oleh imam Syafi’i:
“Jika mencintai keluarga Muhammad adalah Rafidhi (Syiah), maka saksikanlah wahai ats-Tsaqolaan (jin dan manusia) bahwa aku adalah Rofidhi”.[21]

SALAFI (WAHABI) DAN KHAWARIJ

Tidak berlebihan kiranya jika sebagian orang beranggapan bahwa kaum Wahabi (Salafi) memiliki banyak kemiripan dengan kelompok Khawarij. Melihat, dari sejarah yang pernah ada, kelompok Khawarij adalah kelompok yang sangat mirip sepak terjang dan pemikirannya dengan kelompok Wahabi. Oleh karenanya, bisa dikatakan bahwa kelompok Wahabi adalah pengejawantahan kelompok Khawarij di masa sekarang ini. Disini, secara singkat bisa disebutkan beberapa sisi kesamaan antara kelompok Wahabi dengan golongan Khawarij yang dicela melalui lisan suci Rasulullah saw, dimana Rasul memberi julukan golongan sesat itu (Khawarij) dengan sebutan “mariqiin”, yang berarti ‘lepas’ dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya.[22]

Paling tidak ada enam kesamaan antara dua golongan ini yang bisa disebutkan. Pertama, sebagaimana kelompok Khawarij dengan mudah menuduh seorang muslim dengan sebutan kafir, kelompok Wahabi pun sangat mudah menuduh seorang muslim sebagai pelaku syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul. Yang semua itu adalah ‘kata halus’ dari pengkafiran, walaupun dalam beberapa hal memiliki kesamaan dari konsekwensi hukumnya. Abdullah bin Umar dalam mensifati kelompok Khawarij mengatakan: “Mereka menggunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir, lantas mereka terapkan untuk menyerang orang-orang beriman”.[23] Ciri-ciri semacam itu juga akan dengan mudah kita dapati pada pengikut kelompok Salafi (Wahabi) berkaitan dengan saudara-saudaranya sesama muslim. Bisa dilihat, betapa mudahnya para rohaniawan Wahabi (muthowi’) menuduh para jamaah haji sebagai pelaku syirik dan bid’ah dalam melakukan amalan yang dianggap tidak sesuai dengan akidah mereka.

Kedua, sebagaimana kelompok Khawarij disifati sebagaimana yang tercantum dalam hadis Nabi: “Mereka membunuh pemeluk Islam, sedang para penyembah berhala mereka biarkan”,[24] maka sejarah telah membuktikan bahwa kelompok Wahabi pun telah melaksanakan prilaku keji semacam itu. Sebagaimana yang pernah dilakukan pada awal penyebaran Wahabisme oleh pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab. Pembantaian berbagai kabilah dari kaum muslimin mereka lakukan dibeberapa tempat, terkhusus diwilayah Hijaz dan Iraq kala itu.

Ketiga, sebagaimana kelompok Khawarij memiliki banyak keyakinan yang aneh dan keluar dari kesepakatan kaum muslimin, seperti keyakinan bahwa pelaku dosa besar dihukumi kafir, kaum Wahabi pun memiliki kekhususan yang sama.

Keempat, seperti kelompok Khawarij memiliki jiwa jumud (kaku), mempersulit diri dan mempersempit luang lingkup pemahaman ajaran agama, maka kaum Wahabi pun mempunyai kendala yang sama.

Kelima, kelompok Khawarij telah keluar dari Islam dikarenakan ajaran-ajaran yang menyimpang, maka Wahabi pun memiliki penyimpangan yang sama. Oleh karenanya, ada satu hadis tentang Khawarij yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya, yang dapat pula diterapkan pada kelompok Wahabi. Rasul bersabda: “Beberapa orang akan muncul dari belahan Bumi sebelah timur. Mereka membaca al-Quran, tetapi (bacaan tadi) tidak melebihi batas temggorokan. Mereka telah keluar dari agama (Islam), sebagaimana terkeluarnya (lepas) anak panah dari busurnya. Tanda-tanda mereka, suka mencukur habis rambut kepala”.[25] Al-Qistholani dalam mensyarahi hadis tadi mengatakan: “Dari belahan bumi sebelah timur” yaitu dari arah timur kota Madinah semisal daerah Najd.[26] Sedang dalam satu hadis disebutkan, dalam menjawab perihal kota an-Najd: “Di sana terdapat berbagai goncangan, dan dari sana pula muncul banyak fitnah”.[27] Atau dalam ungkapan lain yang menyebutkan: “Disana akan muncul qorn setan”. Dalam kamus bahasa Arab, kata qorn berartikan umat, pengikut ajaran seseorang, kaum atau kekuasaan.[28]

Sedang kita tahu, kota Najd adalah tempat lahir dan tinggal Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi, pendiri Wahabi. Kota itu sekaligus sebagai pusat Wahabisme, dan dari situlah pemikiran Wahabisme disebarluaskan kesegala penjuru dunia.
Banyak tanda zahir dari kelompok tersebut. Selain mengenakan celana atau gamis hingga betis, mencukur rambut kepala sedangkan jenggot dibiarkan bergelayutan tidak karuan adalah salah satu syiar dan tanda pengikut kelompok ini.

Keenam, sebagaimana kelompok Khawarij meyakini bahwa “negara muslim” (Daar al-Salam) jika penduduknya banyak melakukan dosa besar, maka dapat dikategorikan “negara zona perang” (Daar al-Harb), kelompok radikal Wahabi pun meyakini hal tersebut. Sekarang ini dapat dilihat, bagaimana kelompok-kelompok radikal Wahabi –seperti al-Qaedah- melakukan aksi teror diberbagai tempat yang tidak jarang kaum muslimin juga sebagai korbannya.

Tulisan ringkas ini mencoba untuk mengetahui tentang apa dan siapa kelompok Salafi (Wahabi). Semoga dengan pengenalan ringkas ini akan menjadi kejelasan akan kelompok yang disebut-sebut sebagai Salafi ini, yang mengaku penghidup kembali ajaran Salaf Saleh. Sehingga kita bisa lebih berhati-hati dan mawas diri terhadap aliran sesat dan menyesatkan yang telah menyimpang dari Islam Muhammadi tersebut.


Penulis: Adalah mahasiswa pasca sarjana Perbandingan Agama dan Mazhab di Universitas Imam Khomaini Qom, Republiks Islam Iran.


Rujukan:
[2] Lisan al-Arab Jil:6 Hal:330
[3] As-Salafiyah Marhalah Zamaniyah Hal:9, karya Dr. M Said Ramadhan Buthi
[4] As-Shohwat al-Islamiyah Hal:25, karya al-Qordhowi
[5] Al-Aqoid as-Salafiyah Hal: 11, karya Ahmad bin Hajar Aali Abu Thomi
[6] Al-Madzahib al-Islamiyah Hal:331, karya Muhammad Abu Zuhrah
[7] Untuk lebih jelasnya, dapat ditelaah lebih lanjut kitab tebal karya penulis Arab al-Ustadz Nasir as-Sa’id tentang sejarah kerajaan Arab Saudi yang diberi judul “Tarikh aali Sa’ud”. Karya ini berulang kali dicetak. Disitu dijelaskan secara detail sejarah kemunculan keluarga Saud di Jazirah Arab hingga zaman kekuasaan raja Fahd. Dalam karya tersebut, as-Said menetapkan bahwa keluarga Saud (pendiri) kerajaan Arab Saudi masih memiliki hubungan darah dan emosional dengan Yahudi Arab.
[8] Selengkapnya silahkan lihat: As-Salafiyah al-Wahabiyah, karya Hasan bin Ali as-Saqqaf, cet: Daar al-Imam an-Nawawi, Amman-Yordania
[9] Al-Milal wa an-Nihal Jil:1 Hal:165, karya as-Syahrastani
[10] Fi ‘Aqo’id al-Islam Hal:155, karya Muhammad bin Abdul Wahab (dalam kumpulan risalah-nya)
[11] Ayat-ayat al-Quran yang bebunyi “afalaa ta’qiluun” (Apakah kalian tidak memakai akal) atau “Afalaa tatafakkarun” (Apakah kalian tidak berpikir) dan semisalnya akan sangat mudah kita dapati dalam al-Quran. Ini semua salah satu bukti konkrit bahwa al-Quran sangat menekankan penggunaan akal dan mengakui keturutsertaan akal dalam memahami kebenaran ajaran agama.
[12] Q S Thoha:5
[13] Al-Washiyah al-Kubra Hal:31 atau Naqdhu al-Mantiq Hal:119 karya Ibnu Taimiyah
[14] Q S as-Syura:11
[15] Al-Milal wa an-Nihal Jil:1 Hal:84
[16] Banyak hal yang terbukti dengan argumen teks yang mencakup ayat, riwayat, ungkapan dan sirah para sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in diperbolehkan, namun paea kelompok Salafi (Wahabi) mengharamkannya, seperti masalah; membangun dan memberi cahaya lampu pada kuburan, berdoa disamping makam para kekasih Ilahi (waliyullah), mengambil berkah dari makam kekasih Allah, menyeru atau meminta pertolongan dan syafaat dari para kekasih Allah pasca kematian mereka, bernazar atau sumpah atas nama para kekasih Allah, memperingati dan mengenang kelahiran atau kematian para kekasih Allah, bertawassul, dan melaksanakan tahlil (majlis fatehah)…semua merupakan hal yang diharamkan oleh para kelompok Salafi, padahal banyak ayat dan riwayat, juga prilaku para Salaf yang menunjukkan akan diperbolehkannya hal-hal tadi.
[17] Salah satu bentuk penyimpangan kelompok Wahabi terhadap ajaran imam Ahmad bin Hambal adalah pengingkaran Ibnu Taimiyah terhadap berbagai hadis berkaitan dengan keutamaan keluarga Rasul, yang Imam Ahmad sendiri meyakini keutamaan mereka dengan mencantumkannya dalam kitab musnadnya. Dari situ akhirnya Ibnu Taimiyah bukan hanya mengingkari hadis-hadis tersebut, bahkan melakukan pelecehan terhadap keluarga Rasul, terkhusus Ali bin Abi Thalib. (lihat: Minhaj as-Sunnah Jil:8 Hal:329) Dan terbukti, kekhilafahan Ali sempat “diragukan” oleh Ibnu Taimiyah dalam kitabnya “Minhaj as-Sunnah” (lihat: Jil:4 Hal:682), dan ia termasuk orang yang menyebarluaskan keraguan itu. Padahal, semua kelompok Ahlusunnah “meyakini” akan kekhilafahan Ali. Lantas, masihkah layak Ibnu Taimiyah beserta pengikutnya mengaku sebagai pengikut Ahlussunnah?
[18] al-Aqidah li al-Imam Ahmad bin Hambal Hal:38
[19] As-Salafiyah baina Ahlusunnah wa al-Imamiyah Hal:680
[20] Rudud ‘ala Syubahaat as-Salafiyah Hal:249
[21] Diwan as-Syafi’i Hal:55
[22] Musnad Ahmad Jil:2 Hal:118
[23] Sohih Bukhari Jil:4 Hal:197
[24] Majmu’ al-Fatawa Jil:13 Hal:32, karya Ibnu Taimiyah
[25] Shahih Bukhari, kitab at-Tauhid Bab:57 Hadis ke-7123
[26] Irsyad as-Saari Jil:15 Hal:626
[27] Musnad Ahmad Jil:2 Hal:81 atau Jil:4 Hal:5
[28] Al-Qomuus Jil:3 Hal:382 kata: Qo-ro-na


http://suara-muhammadiyah.com/?p=541

SEJARAH ALI

Mu’arif

Semasa pemerintahan Ali, kebijakan-kebijakannya cenderung membersihkan
para pejabat dari keturunan klan Umayyah dalam struktur pemerintahan. Kebijakan ini jelas berseberangan dengan pendahulunya, Usman bin Affan. Menurut Ali, para keturunan Umayyah dianggap sebagai sumber kerusuhan. Meski sempat ditegur oleh Mughirah bin Syu’bah, Sa’ad bin Abi Waqqas, dan Abdullah bin Umayyah, tetapi Ali tetap bersikeras menjalankan kebijakannya.
Dari pihak Bani Umayyah menghendaki supaya khalifah Ali menegakkan hukum atas pembunuh Usman. Jika Ali tidak bisa menegakkan hukum bagi pembunuh Usman, maka Muawiyah beserta pengikutnya mengancam akan menyusun kekuatan dengan alasan menuntut balas. Tuntutan dari pihak Muawiyah semakin memperkeruh keadaan, sehingga di antara para sahabat lebih mengambil langkah diam dan menarik diri dari percaturan politik umat.
Tuntutan dari pihak Muawiyah sebetulnya merupakan siasat politiknya, karena dia sendiri berambisi untuk menduduki kekuasaan. Pertentangan antara Ali dan Muawiyah semakin meruncing ketika masing-masing bertahan pada prinsip yang berbeda.
Tidak hanya pihak Muawiyah yang menuntut agar Ali menegakkan hukum atas pembunuh Usman, tetapi Aisyah, janda Nabi saw, juga meminta ketegasan sang khalifah. Aisyah bersama pengikut-pengikutnya mengorganisir suku-suku di sekitar Makkah untuk memberontak. Sahabat Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah turut mendampingi pasukan Aisyah ini. Aisyah merasa sudah tidak punya harapan lagi kepada khalifah Ali. Kegagalan atas pengusutan pembunuhan Usman bin Affan sudah tampak jelas.
Perlu dicatat bahwa perlawanan ini sama sekali tidak memiliki tendensi politik apa pun. Gerakan Aisyah bersama pasukannya murni bertujuan untuk menekan khalifah Ali agar menegakkan hukum atas pembunuh Usman. Dengan demikian, mereka tidak memiliki ambisi kekuasaan. Mereka ini juga tidak berkoalisi dengan kelompok Muawiyah yang berambisi merebut kursi khalifah.
Ali betul-betul dalam posisi sulit. Pemerintahannya dihadapkan pada dua perlawanan, yang justru datang dari umat Islam sendiri. Perlawanan pertama datang dari kelompok Muawiyah yang menuntut balas atas pembunuhan Khalifah Usman, namun tuntutan tersebut tidak lebih sebatas kepentingan politik semata. Adapun perlawanan kedua ialah kelompok Aisyah yang sudah tidak percaya lagi terhadap khalifah. Kegagalan atas penegakan hukum atas kasus pembunuhan Usman bin Affan menyebabkan kelompok ini memerangi pemerintahan yang dianggap dlalim itu.
Perseteruan pihak Ali dengan Aisyah melahirkan Perang Jamal (Perang Unta) pada tahun 656 M di dekat Bashrah. Meskipun jumlah tentara lebih banyak di pihak Aisyah, namun strategi perang lebih dikuasai oleh pasukan Ali. Sudah barang tentu, dapat ditebak, siapa yang keluar sebagai pemenang dalam Perang Jamal ini. Setelah menelan kekalahan dalam Perang Jamal, Aisyah memutuskan menarik diri dari pentas perpolitikan umat dan kembali ke Madinah.
Sebuah permasalahan telah teratasi, bagi khalifah Ali, namun masalah yang lebih besar menghadang di depan mata. Konspiras politik dari pihak Muawiyah beserta antek-anteknya bukanlah masalah yang enteng. Terlebih lagi, ketika sahabat Amru ibn Ash yang merupakan seorang cendikiawan, politikus, dan orator ulung, telah bergabung bersama Muawiyah.
Puncak dari perseteruan antara Ali dan Muawiyah ketika meletus Perang Siffin. Peristiwa ini terjadi pada bulan Dzulhijjah tahun 36 H (657 M). Masing-masing bertempur dengan kekuatan 95.000 tentara di pihak Ali dan 85.000 tentara di pihak Muawiyah. Pertempuran tersebut menelan korban sebanyak 35.000 tentara di pihak Ali dan 45.000 tentara di pihak Muawiyah.
Perang Siffin tidak dimenangkan oleh siapa pun. Karena, tak terlihat tanda-tanda perang bakal berakhir, menjelang bulan Shafar, khalifah Ali bin Abu Thalib mengutus panglima Basyir ibn Amr untuk menawarkan perundingan dengan pihak Muawiyah. Akan tetapi, Muawiyah bersikeras menolak tawaran perundingan tersebut, bahkan dia menuntut baiat umat Islam atas dirinya. Melihat sikapnya yang cenderung melawan, maka telah jelas bahwa Muawiyah telah menghendaki perang sampai penghabisan.
Di saat perang berkecamuk, dari pihak Muawiyah melalui perantara Amr ibn Ash mengajak berdamai. Tentu saja tawaran damai ini kelihatan agak ganjil. Apalagi ketika Amr bin Ash menyeru, “Marilah bertahkim kepada Kitab Allah!” Amr bin Ash berkali-kali menyeru seraya menggantungkan al-mushaf pada ujung tombak.
Sesungguhnya, sikap semacam itu merupakan manuver politik dari Amru ibn Ash untuk mengelabui umat Islam yang tengah bersengketa. Menurut pembacaan Amr bin Ash, pihak Muawiyah akan sulit meraih kemenangan dalam pertempuran ini karena bala tentara mereka kalah jauh dari segi jumlahnya.
Ternyata, manuver Amru ibn Ash sangat jitu. Para pengikut Ali mulai bimbang dan beberapa tentara sempat menghentikan perang. Namun, Ali dapat membaca siasat licik nan busuk ini dengan tetap memerintahkan pasukannya untuk terus berperang. Pengikut-pengikut Ali yang kebanyakan dari kalangan Muslim taat (literalis) tidak bisa menolak atas ajakan bertahkim tersebut. Terlebih ketika mereka melihat Mushaf Al-Qur’an yang diacung-acungkan di ujung tombak.
Siasat licik Amr bin Ash betul-betul jitu! Di kalangan pengikut Ali timbul perselisihan pendapat yang cukup tajam. Para pengikut Ali pecah: antara mereka yang terus melanjutkan perang dan yang memilih untuk menyudahinya.
Karena, mayoritas pengikut Ali adalah Muslim taat, maka dia pun dengan sangat terpaksa menghentikan peperangan. Terjadilah tahkim (arbitrase) antara dua kubu, dari pihak Muawiyah diwakili olah oleh Amr bin Ash dan pihak Ali diwakili oleh Abu Musa Al-Asy’ari.
Sewaktu pasukan Ali pulang dari Siffin, terdapat kelompok yang tidak puas atas putusan tahkim. Menurut mereka, telah jelas mana yang salah dan mana yang benar dalam kasus Perang Siffin. Secara politis, tahkim telah memojokkan posisi Ali beserta pengikut-pengikutnya. Ketika tawaran damai dari pihak Muawiyah disetujui oleh Ali, secara tidak langsung, dia telah membiarkan orang-orang yang bertahkim tersebut bergerak leluasa. Atas dasar inilah, menurut mereka, khalifah Ali dinilai telah berkhianat. Kelompok ini kemudian membelot dan memisahkan diri dari jamaah pengikut Ali. Untuk selanjutnya, kelompok ini berbalik arah memusuhi khalifah Ali dan pengikut-pengikutnya. Mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai kelompok Khawarij.
Arbitrase memberi keuntungan besar bagi pihak Muawiyah, tetapi merugikan pihak Ali. Hasil tahkim ini justru telah menurunkan legitimasi kekuasaan Ali. Keberhasilan Muawiyah dalam proses tahkim tidak lepas dari strategi Amr bin Ash.
Adapun pendukung setia khalifah Ali, mereka inilah yang kemudian disebut sebagai kelompok Syiah. Sementara, di kalangan umat Islam yang tidak mengambil sikap atas kasus ini (netral), mereka cenderung bersikap moderat. Mereka berpandangan bahwa kasus tahkim cenderung menyalahkan satu pihak. Oleh karena itu, mereka menawarkan pandangan baru atas kasus ini, yakni dengan konsep “irja.” Maksudnya ialah menangguhkan keputusan atas kasus fitnah kubra ini. Mereka lebih menggantungkan keputusan kepada Allah SwT yang diyakini akan memutuskan dengan adil di akhirat nanti. Kelompok ini kemudian menjadi bibit gerakan Murji’ah yang dikenal cukup moderat.
Khalifah Ali bin Abu Thalib terbunuh oleh Abdurrahman bin Muljam, mantan pengikutnya yang membelot pasca peristiwa tahkim. Rupanya, kelompok Khawarij menganggap khalifah Ali sebagai pengkhianat, sehingga dia menjadi target pembunuhan dalam gerakan ini. Ali bin Abu Thalib wafat pada tanggal 12 Ramadlan tahun 40 H (661 M).

SYI'AH

Syiah

Syiah adalah selompok Islam yang paling tua. Pada asalnya mereka adalah golongan yang berpendapat keutamaan kaum keluarga Nabi s.a.w. (ahlul bait) terhadap jawatan khalifah. Dan ahlul bait yang paling berhak ialah Ali bin Abi Talib r.a.
Mazhab mereka ini zahir pada akhir zaman pemerintahan Usman bin Affan r.a. I berkembang dan tersebar pada zaman pemerintahan Ali r.a. Di mana, apabila Ali r.a. menduduki tempat yang tertinggi (memeruntah) golongan Syiah mengambil kesempatan untuk menyebarluaskan ajaran mereka di kalangan manusia.
Apabila tiba pada zaman pemerintahan Bani Umaiyah telah berlaku kezaliman ke atas penyokong-penyokong Ali. Umat Islam pula melihat bagaimana Ali dan anak-anaknya terkorban sebagai syuhada' dari kezaliman yang berlaku. Faktor kezaliman ini menyebabkan mazhab Syiah semakin tersebar dan mempunyai ramai penyokong.
Asas-asas mazhab Syiah
Berikut ini adalah sebahagian dari asas-asas mazhab Syiah:
1 . Imamah (pemerintahan) bukan sebahagian dari mashlahat `amah yang perlu diserahkan kepada umat untuk dirundingkan (mesyuarat). Malahan, ia dianggap sebagai rukun dan teras kepada Islam. Nabi tidak boleh melupakan atau melalaikannya. Sebaliknya baginda wajib melantik imam untuk umat ini, dan imam yang dilantik itu adalah maksum (terpelihara) dari dosa besar dan kecil.
2 . Rasulullah s.a.w. telah melantik Ali r.a. sebagai khalifah dengan nash yang dinukilkan dan ditakwilkan oleh golongan Syiah dengan nukilan yang tidak pernah diketahui bahawa ia adalah nukilan syariat dan ahli hadis.???
Dari sinilah munculnya pemikiran wasiat dan menggelar Ali dengan gelaran al-washi. Ia bermaksud bahawa Ali itu adalah imam dengan nash bukan dengan pilihan ataupun syura. Dan Ali kemudian berwasiat pula kepada keturunan selepasnya. Begitulah seterusnya para imam Syiah adalah penerima wasiat dari imam sebelumnya.
3 . Ali r.a. merupakan makhluk yang paling afdal di dunia dan akhirat selepas Rasulullah s.a.w. Oleh itu, barangsiapa yang memusuhi Ali atau memeranginya, maka dia adalah musuh Allah melainkan jika dia sempat bertaubat sebelum kematiannya dan mati dalam keadaan mencintai Ali.
4 . Syiah ini tidak wujud dalam satu kedudukan sahaja, malahan terdapat di kalangan mereka yang melampau dan taksub.
Golongan sederhana dari kalangan Syiah berpendapat keutamaan/keafdalan Ali berbanding dengan para sahabat lainnya tanpa mengkafirkan atau menfasikkan sesiapapun. Mereka mengiktiraf kesahihan imam yang kurang utama disamping wujud imam yang lebih utama. Mereka mengatakan bahawa, tidak ada beza di antara Nabi s.a.w. dan Ali r.a. kecuali martabat kenabian sahaja. Selain dari martabat itu, mereka memberikan kepada Ali r.a. segala sifat yang ada pada Rasulullah s.a.w.
Golongan yang ekstrem dan melampau pula, tidak memadai dengan hanya mengatakan keutamaan Ali di atas khulafa'ur Rasyidin dan kemaksumannya, malahan mereka mengangkat Ali hingga ke martabat kenabian. Sebahagian dari mereka ada yang mempertuhankan Ali. Terdapat juga yang mendakwa bahawa Allah Taala bersatu di dalam diri Ali (hulul). Ada sebahagiannya yang berkata bahawa setiap ruh imam diresapi dengan sifat-sifat ketuhanan (uluhiyah) yang dapat berpindah kepada imam-imam berikutnya.
Pada hakikatnya, fahaman mencintai Ali (tasyaiyu') merupakan tempat berlindung:
- Orang-orang yang mahu menghancurkan Islam kerana sikap permusuhan atau dendamnya.
- Orang-orang yang mahu memasukkan ajaran nenek moyang mereka ke dalam Islam, yang terdiri dari kalangan bekas penganut Yahudi, Nasrani, Majusi dan lain-lain.
- Orang-orang yang mahu memerdekakan negeri mereka dan keluar dari pemerintahan Islam.
Setiap orang dari mereka ini menjadikan kecintaan kepada Ahlul Bait sebagai tabir yang disebaliknya terdapat segala apa yang hawa nafsu mereka mahukan.

GOLONGAN QADARIYAH

Qadariyah

Iraq merupakan tempat berkumpulnya banyak anasir yang terdiri dari beberapa umat yang menganut pelbagai agama. Basrah pula merupakan lautan yang membawa ombak-ombak pemikiran dan aliran.
Ma'bad bin Khalid al-Juni (salah seorang dari yang duduk di majlis pengajian Hasan al-Basri) telah mendengar orang yang mengatakan bahawa maksiat itu telah dilakukan kerana telah ditakdirkan. Lalu beliau berdiri dan menolak pendapat mereka dengan menafikan keadaan takdir itu menafikan ikhtiar. Beliau telah bersikap keterlaluan di dalam mempertahankan pendapatnya sehingga masyhur kata-katanya: "Tiada takdir, dan setiap perkara itu baru bermula. "
Ketika pemikiran Ma'bad sampai ke pengetahuan Ibnu Umar, beliau berlepas diri daripadanya dan para pengikutnya.
Asas-asas mazhab Qadariyah
1 . Mengingkari takdir Allah Taala dengan maksud ilmuNya.
2 . Melampau di dalam menetapkan kemampuan manusia dengan menganggap mereka bebas berkehendak (iradah). Di dalam perbuatan manusia, Allah tidak mempunyai pengetahuan (ilmu) mengenainya dan ia terlepas dari takdir (qadar). Mereka menganggap bahawa Allah tidak mempunyai pengetahuan mengenai sesuatu kecuali selepas ia terjadi.
3 . Mereka berpendapat bahawa Allah tidak bersifat dengan suatu sifat yang ada pada makhluknya. Kerana ini akan membawa kepada penyerupaan (tasybih). Oleh itu mereka menafikan sifat-sifat Ma'ani dari Allah Taala.
4 . Mereka berpendapat bahawa al-Quran itu adalah makhluk. Ini disebabkan pengingkaran mereka terhadap sifat Allah.
5 . Mengenal Allah wajib menurut akal, dan iman itu ialah mengenal Allah.
6 . Mereka mengingkari melihat Allah (rukyah), kerana ini akan membawa kepada penyerupaan (tasybih).
7 . Mereka mengemukakan pendapat tentang syurga dan neraka akan musnah (fana'), selepas ahli syurga mengecap nikmat dan ali neraka menerima azab siksa.

Para ulamak telah bangkit menentang pendapat Qadariyah atas dua sebab, iaitu:
Sebab pertama: Masalah pemaksaan yang membawa kepada ta'thil dan meninggalkan amal dan rukun kepada takdir.
Sebab kedua: Sikap melampau mereka di dalam mentakwilkan ayat-ayat al-Quran yang menyebutkan dan menetapkan sifat-sifat Allah. Takwilan-takwilan ini membawa bahaya kepada al-Quran dan kefahaman makna-maknanya.
Ramai para ulamak yang mengkafirkan golongan Qadariyah.
Dakwah mereka ini telah dipimpin oleh dua orang tokoh, iaitu:
Pertama: Ma'bad bin Khalid al-Juhni di Iraq. Beliau telah terbunuh ketika keluar berperang bersama Ibnu al-Asy'as dengan al-Hajjaj.
Kedua: Ghailan bin Marwan al-Dimasyqi di Damsyiq. Umar Abdul Aziz telah memanggilnya dan berdebat dengannya sehingga beliau bertaubat. Semasa Hisyam bin Abdul Malik memerintah, beliau telah dibunuh.
Golongan Qadariyah dihukumkan kafir kerana keingkaran mereka terhadap takdir.
Mazhab Qadariyah dan Jabbariyah telah lenyap. Keduanya tidak lagi wujud secara berdiri sendiri. Dan kesannya dapat kita lihat pada mazhab Muktazilah.
Sehingga kini masalah al-jabar (keterpaksaan) dan ikhtiar masih diperselisihkan oleh para pengkaji

GOLONGAN MUKTAZILAH

Muktazilah

Kemunculan Muktazilah adalah berasaskan kepada perselisihan yang berlaku di antara Washil bin Atho' dengan gurunya Hasan al-Basri mengenai hukum orang yang melakukan dosa besar. Golongan Muktazilah dinisbahkan kepadanya.
Kisah perselisihan itu berlaku semasa majlis pengajian Hasan al-Basri. Di mana seorang lelaki telah masuk dan berkata kepada Hasan al-Basri: "Wahai imam agama, telah lahir pada zaman kita ini segolongan orang yang mengkafirkan pembuat dosa besar, mereka adalah Khawarij. Segolongan lagi ialah mereka yang mengmbalikan hukum ke atasnya. Mereka berkata: "Tidak memberi mudarat kemaksiatan jika mempunyai iman, sebagaimana tidak memberi manfaat ketaatan jika dalam kekafiran. Mereka adalah golongan Murji'ah."
Hasan al-Basri berfikir. Sebelum beliau menjawab, Washi bin Atho' berkata: "Aku tidak berpendapat bahawa pembuat dosa besar itu sebagai mukmin secara mutlak dan tidak kafir secara mutlak. Malahan dia akan berada di suatu tempat di antara dua tempat."
Kemudian Washil meminggirkan diri ke suatu sudut di dalam masjid berkenaan, dan mendirikan mazhabnya sendiri. Lalu Hasan al-Basri berkata: "Washil telah mengasingkan (I'tizal) diri dari kami." Ini menjadi sebab mereka diberi nama dengan Mu'tazilah.
Washil telah dilahirkan di Madinah pada tahun 80 Hijrah, dan meninggal dunia pada tahun 131 Hijrah di Basrah.
Mazhabnya telah tersebar di Iraq, dan sebahagian dari khalifah Bani Abbasiyah telah mengikut fahaman ini.
Pada zaman pemerintahan Bani Abbasiyah, mereka mempunyai dua buah madrasah. Yang pertama di Basrah dan yang kedua di Baghdad. Telah berlaku perdebatan dan perselisihan di antara dua madrasah ini mengenai banyak masalah.
Cara pembahasan mereka
Mereka menggunakan akal fikiran untuk setiap perkara dan cuba memperolehinya melalui jalan ini. Mereka mempunyai satu kelebihan yang hebat di dalam mempertahankan Islam, kerana mereka telah bangkit menentang orang-orang dari penganut akidah yang sesat dan dari agama-agama lain dengan hujah dan bukti.
Namun, Muktazilah telah bersikap ekstrim di dalam sebahagian pendapatnya dan pencelaan mereka terhadap ahli fikah dan ahli hadis.Begitu juga sokongan khalifah-khalifah Abbasiyah terhadap mereka, seperti al-Makmun yang secara kekerasan memaksa rakyat agar menerima mazhab mereka serta menyiksa para ahli fikah dan ahli hadis. Dengan ini rakyat telah menyifatkan mereka sebagai telah terpesong dari ajaran agama. Sebagaimana yang telah diketahui bahawa akal itu terpengaruh dengan suasana dan hawa. Syarak adalah lampu yang menyinari jalan di hadapan akal.
Asas-asas mazhab Muktazilah
Antara asas-asas ajaran Muktazilah ialah:
1 . Wajib mengenal Allah dengan (berdasarkan) akal.
2 . Mengingkari sifat Ma'ani, dan berpendapat al-Quran itu adalah makhluk.
3 . Menafikan melihat Allah (rukyah) kerana akan membawa kepada menjisimkan dan memberi arah kepada Allah.
4 . Berpendapat bahawa baik dan buruk adalah berdasarkan kepada akal.
5 . Allah mengkehendaki kebaikan dan tidak mengkehendaki kejahatan. Allah wajib membuat yang baik dan terbaik untuk makhlukNya.
6 . Hamba mencipta perbuatan-perbuatannya sendiri dengan kekuasaan yang diberikan Allah kepadanya.
7 . Allah wajib melaksanakan janji baik dan janji ancaman. Allah juga wajib mengutuskan rasul.
8 . Pembuat dosa besar akan berada di satu tempat di antara dua tempat, dan tiada syafaat untuknya.
9 . Wajib melakukan amar makruf dan nahi munkar.

GOLONGAN MURJI'AH

Murji'ah

Kemunculan
Para pengikut Ali berpecah kerelaannya menerima Tahkim kepada Khawarij dan Syiah. Di mana Khawarij mengkafirkan Ali, Usman dan jurucakap Tahkim. Manakala Syiah pula sebahagiannya mengkafirkan Abu Bakar, Umar, Usman dan pendokong-pendokong mereka. Dan kedua-dua aliran ini pula sama-sama mengkafirkan bani Umaiyah dan melaknat mereka. Bani Umaiyah pula mengatakan bahawa kaum muslimin ialah mereka yang berada di bawah panji-panji mereka, tunduk patuh samada suka ataupun benci.
Ini menjadi sebab sekumpulan dari kalangan para sahabat membenci perselisihan yang berlaku. Lalu mereka mengambil jalan tengah hingga benar-benar nyata fitnah berkenaan. Kerana inilah mereka enggan mencampuri urusan orang-orang yang berselisih. Mereka tidak membebankan diri mereka untuk membahaskan mengenai siapa yang benar dari kalangan dua kelompok yang berselisih dan berperang. Mereka mengembalikan hukum tentang keadaan mereka kepada Allah s.w.t. Sebab itulah mereka digelar sebagai al-Murji'ah.
Asas-asas mazhab Murji'ah
Berikut ini adalah sebahagian dari asas-asas mazhab Murji'ah:
Mereka berpendapat bahawa kelompok-kelompok yang berselisih itu masih beriman, sekalipun sebahagian mereka itu ada yang benar dan sebahagian mereka ada yang salah. Kerana mereka tidak mampu untuk menentukan yang mana benar dan yang mana bersalah, maka dikembalikan hukum itu kepada Allah Taala. Golongan yang berselisih ini beriman kerana mereka masih mengucap dua kalimah Syahadah. Kemudian asas ini berkembang pada masa berikutnya:
a . Iman itu ialah dengan pembenaran (tasdiq) dan makrifah (mengenal Allah). Amal pula tidak memberi kesan kepada iman secara mutlak. Mereka mengatakan bahawa keimanan yang disertai dengan kemaksiatan tidak memberi mudarat, sebagaimana tidak memberi manfaat kekufuran yang disertai dengan ketaatan.
b . Kemudian sebahagian mereka ada yang bersikap melampau. Mereka menganggap bahawa keimanan itu hanyalah dengan hati, sekalipun seseorang itu mengumumkan kekufurannya dengan lisan, menyembah berhala atau melazimi orang-orang Yahudi dan Nasrani; dan dia mati dalam keadaan begitu, maka tetap dianggap sebagai orang yang beriman.
Terdapat kefasikan dan kejahatan di dalam pandangan-pandangan mazhab ini yang membuka pintu ke arah segala kerosakan. pandangan-pandangan mazhab ini yang membuka pintu ke arah segala kerosakan. Mereka menjadikannya sebagai perantara dosa-dosa mereka.
Zaid bin Ali bin al-Husain berkata: "Aku bebas dari Murji'ah yang sukakan kepada kefasikan pada keampunan Allah."
Memang banyak mazhab yang muncul secara bersih, kemudian para pengikutnya menjadi pelampau yang mengikut hawa nafsu mereka.

KEMUNCULAN ILMU KALAM

Kemunculan Ilmu Kalam

Pada zaman Abbasiyah, telah banyak berlaku pembahasan di dalam perkara-perkara akidah termasuk perkara-perkara yang tidak wujud pada zaman Nabi s.a.w. atau zaman para sahabatnya. Berlaku pembahasan tersebut dengan memberi penumpuan agar ia menjadi satu ilmu baru yang diberi nama Ilmu Kalam. Ilmu ini muncul dan berkembang atas sebab-sebab dalaman dan luaran.
Sebab-sebab dalaman
Berikut ini adalah sebab-sebab dalaman yang menjadi punca munculnya ilmu Kalam:
1. Al-Quran di dalam seruannya kepada tauhid membentangkan aliran-aliran penting dan agama-agama yang bertebaran pada zaman Nabi s.a.w., lalu al-Quran menolak perkataan-perkataan mereka. Secara tabi'I, para ulamak telah mengikut cara al-Quran di dalam menolak mereka yang bertentangan, di mana apabila penentang memperbaharui cara, maka kaum muslimin juga memperbaharui cara menolaknya.
2. Pada zaman pemerintahan Bani Umaiyah, hampir-hampir keseluruhan umat Islam di dalam keimanan yang bersih dari sebarang pertikaian dan perdebatan. Dan apabila kaum muslimin selesai melakukan pembukaan negeri dan kedudukannya telahpun mantap, mereka beralih tumpuan kepada pembahasan sehingga menyebabkan berlaku perselisihan pendapat di kalangan mereka.
3. Perselisihan di dalam masalah politik menjadi sebab di dalam perselisihan mereka mengenai soal-soal keagamaan. Jadilah parti-parti politik tersebut sebagai satu aliran keagamaan yang mempunyai pandangannya sendiri. Parti (kelompok) Imam Ali r.a. membentuk golongan Syiah, dan manakala mereka yang tidak bersetuju dengan Tahkim dari kalangan Syiah telam membentuk kelompok Khawarij. Dan mereka yang membenci perselisihan yang berlaku di kalangan umat Islam telah membentuk golongan Murji'ah.
Sebab-sebab luaran
Berikut ini adalah sebab-sebab luaran yang menjadi punca muncul ilmu Kalam:
1. Ramai orang yang memeluk agama Islam selepas pembukaan beberapa negeri adalah terdiri dari penganut agama lain seperti yahudi, Nasrani, Ateis dan lain-lain. Kadangkala mereka menzahirkan pemikiran-pemikiran agama lama mereka bersalutkan pakaian agama mereka yang baru (Islam).
2. Kelompok-kelompok Islam yang pertama, khususnya Muktazilah, perkara utama yang mereka tekankan ialah mempertahankan Islam dan menolak hujah mereka yang menentangnya. Negeri-negeri Islam terdedah dengan semua pemikiran-pemikiran ini dan setiap kelompok berusaha untuk membenarkan pendapatnya dan menyalahkan pendapat kelompok lain. Orang-orang Yahudi dan Nasrani telah melengkapkan diri mereka dengan senjata ilmu Falsafah, lalu Muktazilah telah mempelajarinya agar mereka dapat mempertahankan Islam dengan senjata yang telah digunakan oleh pihak yang menyerang.
3. Ahli-ahli Kalam memerlukan falsafah dan mantiq (ilmu logik), hingga memaksa mereka untuk mempelajarinya supaya dapat menolak kebatilan-kebatilan (keraguan-keraguan) yang ada di dalam ilmu berkenaan.
Kemunculan aliran-aliran Islam
Masalah khilafah (pemerintahan) adalah masalah yang menyebabkan telah berlaku perselisihan yang kuat antara kaum muslimin. Kesan dari perselisihan ini ialah, terbentuknya beberapa kelompok besar di dalam Islam, iaitu:
1. Syiah: Mereka ialah orang-orang yang berpendapat bahawa yang lebih berhak terhadap pemerintahan selepas kewafatan Rasulullah s.a.w. ialah saiyidina Ali r.a.
2. Khawarij: Iaitu mereka yang tidak menyetujui majlis Tahkim. Mereka keluar dari kelompok saiyidina Ali.
3. Murji'ah: Iaitu mereka yang membenci perselisihan dan menjauhi dua kelompok di atas.
Setalah kaum muslimin selesai membuka negeri-negeri, lalu ramai dari kalangan penganut agama lain yang memeluk Islam. Mereka ini menzahirkan pemikiran-pemikiran baru yang diambil dari agama lama mereka tetapi diberi rupabentuk Islam.
Iraq, khususnya di Basrah merupakan tempat segala agama dan aliran. Maka terjadilah perselisihan apabila ada satu golongan yang menafikan kemahuan (iradah) manusia. Kelompok ini diketuai oleh Jahm bin Safwan. Dan antara pengikutnya ialah para pengikut aliran Jabbariyah yang diketuai oleh Ma'bad al-Juhni. Aliran ini lahir ditengah-tengah kecelaruan pemikiran dan asas yang dibentuk oleh setiap kelompok untuk diri mereka.
Kemudian bangkitlah sekelompok orang yang ikhlas memberi penjelasan mengenai akidah-akidah kaum muslimin berdasarkan jalan yang ditempoh oleh al-Quran. Antara yang masyhur di kalangan mereka ialah Hasan al-Basri.
Dan sebahagian dari kesan perselisihan antara Hasan al-Basri dengan muridnya Washil bin Atho' ialah lahirnya satu kelompok baru yang dikenali dengan Muaktazilah. Perselisihan tersebut ialah mengenai hukum orang beriman yang mengerjakan dosa besar, kemudian mati sebelum sempat bertaubat.
Pada akhir kurun ketiga dan awal kurun keempat, lahirlah imam Abu Mansur al-Maturidi yang berusaha menolak golongan yang berakidah batil. Mereka membentuk aliran al-Maturidiah.
Kemudian muncul pula Abul Hasan al-Asy'ari yang telah mengumumkan keluar dari kelompok Mu'tazilah dan menjelaskan asas-asas pegangan barunya yang bersesuaian dengan para ulamak dari kalangan fuqahak dan ahli hadis. Dia dan pengikutnya dikenal sebagai aliran Asya'irah.
Dan dari dua kelompok ini, terbentuklah kelompok Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Dan kesimpulannya, kita dapat melihat bahawa kemunculan kelompok-kelompok di dalam Islam adalah kembali kepada dua perkara:
1. Perselisihan mengenai pemerintahan
2. Perselisihan di dalam masalah usul atau asas agama.